Uang Anda, Tanggung Jawab Anda


Artikel ini saya kutip dari majalah bulanan internal Danamon edisi 07.2011. Semoga dapat membantu pembaca dalam merencanakan dan mengelola keuangannya.

Uang Anda, Tanggung Jawab Anda

Oleh Ligwina Hananto, CEO & Perencana Keuangan Independen dari QM Financial

Rencana Keuangan - getty images

Saya datang dari keluarga tidak mampu. Saya menikmati pendidikan yang baik, dikirim sekolah ke luar negeri. Saya menyelesaikan S1 di Australia dan adik saya menyelesaikan S2 di Prancis. Orang tua saya adalah tipe pekerja keras yang menabung dengan sangat giat selama bertahun-tahun untuk dapat memiliki gaya hidup yang mereka nikmati sekarang. Hal ini membuat saya lengah. Pulang ke Indonesia, saya langsung mendapatkan pekerjaan di sebuah bank dengan posisi dan paket remunerasi yang baik. Tak lama kemudian saya menikah. Bersama suami, kami menikmati hidup yang sangat nyaman. Tapi apakah kemudian kami sejahtera? Saldo rekening kami saat itu Rp. 119.200. Begitu anak pertama lahir, kami pun kelabakan. Bagaimana bisa kami menyekolahkan anak ini dengan saldo yang begitu rendah? Kami – berpendidikan tinggi, bekerja di sebuah bank, punya posisi dan penghasilan yang lumayan – adalah bagian dari golongan miskin Indonesia.

Saat itulah, saya kemudian memutuskan untuk mengubah cara kami sebagai keluarga mengelola uang yang kami miliki. Problem kami bukan soal ‘penghasilan’ tetapi soal sistem. Kami membutuhkan sistem yang baik. Saya pun bertanya pada orang tua saya, tentang kunci sukses mereka bisa menyekolahkan 2 anak dan hidup sejahtera. Jawaban orang tua saya cukup mencengangkan, mereka menabung 90% dari penghasilan setiap bulan!

Tunggu Dulu!

Saya tidak sanggup disuruh menabung 90% dari penghasilan. Saya keburu nyaman dengan gaya hidup yang saya nikmati. Ayah saya adalah seorang insinyur tambang. Ia bekerja selama 30 tahun di kota tambang di pedalaman Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Tentu saja gaya hidup Ayah saya yang hidup di tengah hutan akan berbeda dengan gaya hidup saya yang anak Jakarta ini. Sehemat apapun usaha saya, tidak akan dapat menyelamatkan 90% dari penghasilan per bulan kami. Harus ada cara lain untuk mengelola uang. Cara ini saya temukan melalui Financial Planning.

Get to Know Yourself

Hal pertama yang saya lakukan adalah berkenalan dengan pola hidup kami saat itu. Saya mulai menghitung apa saja pengeluaran kami. Kondisi keuangan kita adalah refleksi dari cara kita hidup. Kita dapat mengenali pola pengeluaran bulanan dengan memperhatikan cara kita melaksanakan kegiatan sehari-hari. Mencatat pengeluaran adalah pekerjaan yang membosankan tetapi perlu kita lakukan paling tidak satu kali setiap tahunnya agar bisa mengenali pola tersebut.

Responsible Lending & Borrowing

Berikutnya adalah bagaimana memastikan pinjaman yang bertanggung jawab. Sebagai keluarga muda yang baru memulai mengumpulkan aset, kami sangat membutuhkan kredit kepemilikan rumah dan kredit kepemilikan kendaraan. Karena kita perlu juga memastikan bahwa kita mampu untuk meminjam. Dalam financial planning, sebaiknya total cicilan bulanan tidak melebihi 30% dari penghasilan perbulanan kita. Jadi pastikan cicilan yang kita ambil bukan cicilan konsumtif atau cicilan kartu kredit.

Pay Yourself First

Dulu, saya menunggu sisa dari gaji setiap bulan. Hasilnya, menabung menjadi sebuah proses yang sulit saya laksanakan. Jadi, saat mengubah cara saya bekerja dengan uang, saya banyak membaca dan belajar lagi. Salah satu poin penting yang saya dapatkan dari buku Automatic Millionaire karya David Bach adalah: Pay Yourself First. Bach mengajak kita untuk menyisihkan di depan saat menerima gaji. Tentukan saja mau berapa persen. Minimal mulai 10%. Ternyata menjalani cara ini saya jadi lebih tenang. Karena sudah tahu ada uang yang berhasil saya selamatkan dari nafsu belanja saya sendiri.

The Shopping Account

Saya termasuk orang yang tidak suka berhemat. Saya lebih memilih untuk bekerja lebih keras agar bisa menikmati uang saya. Tetapi biar bagaimana juga, kalau tidak pandai-pandai mengurus uang, belanja sembarangan akan membuat saya gagal menyisihkan untuk masa depan. Karena itu, saya membuat sebuah rekening khusus: rekening shopping.

Dengan adanya rekening ini, saya bisa memisahkan uang yang memang bebas dibelanjakan tanpa rasa bersalah. Uang memiliki sifat seperti air, Jika kita mencampur air mandi dengan air minum, tentu tidak bisa kita pisahkan lagi. Begitu juga dengan uang. saya merasa saat uang sekolah anak dan uang belanja senang-senag tercampur, saya bingung sendiri. Sekarang saya punya dana pendidikan anak dan tetap bisa belanja dengan damai.

Learn More Everyday

Cara saya hidup sangat berbeda dengan cara orang tua saya hidup. Begitu juga dengan cara mengelola uang. Orang tua saya bisa hanya menabung. Tentu saya tidak bisa menggunakan cara yang sama. Walaupun kuliah di jurusan Finance dan bekerja di bank, ternyata saat itu saya punya financial literacy yang sangat rendah! Saat itu, saya tidak tahu apa-apa tentang investasi. Inilah yang melahirkan tagline “Finance Should be Practical” di acara radio yang saya pandu setiap minggu. Karena dengan latar belakang yang seharusnya cukup, ternyata tidak membuat saya bergerak untuk mengatur uang dengan baik. Perlu kesadaran baru, perlu belajar lebih banyak.

Jadi, untuk bisa melakukan Money Management, yang baik, ayo belajar lagi. Waktu itu, saya memutuskan untuk kuliah lagi agar ingatan saya lebih fresh dan pengetahuan saya ter-update. Saya pun tidak kapok untuk ikut kursus keuangan di mana-mana. Sampai hari ini pun saya masih rajin mencari seminar dan selalu punya daftar bacaan agar dapat terus belajar lagi.

The Plan: Creating, Implementing, and Reviewing

Terakhir, membuat sistem tadi. Rencana Keuangan adalah sebuah cara yang sistematis untuk terus menerus memperbaiki keuangan kita. Biasanya kita akan langsung membeli produk, berpikir belakangan. Dengan sebuah rencana, kita akan dituntun untuk memeriksa dahulu keuangan kita, menentukan tujuan finansial, baru berhitung. Produk keuangan dan investasi akan dipilih belakangan dan disesuaikan demi mencapai tujuan finansial.

Rencana keuangan ini bisa kita buat sendiri – tentu dengan limitasi dan batasan. Rencana keuangan bisa juga kita buat bersama perencana keuangan independen yang profesional di bidangnya. Apapun pilihan anda, pastikan anda memiliki sebuah rencana keuangan. Saya merasakan perubahan yang luar biasa saat mulai membuat rencana keuangan untuk keluarga. Saldo rendah, kehabisan uang sudah bukan obrolan lagi di rumah. Sekarang rasanya lebih tenang karena tahu uang ada dari mana, pergi ke mana, dan akan siap untuk apa saja.

Sekarang bagaimana dengan Anda?

Berapa penghasilan anda tiap bulan? 1 juta? 15 juta? 30 juta? 50 juta? atau bahkan ada yang sudah melebihi angka 100 juta? saya sungguh tidak memperdulikan berapa penghasilan anda. Karena yang penting adalah berapa banyak dari penghasilan ini yang dapat anda atur dan bermanfaat di masa depan.

Money Management is For Everyone

Berapapun penghasilan anda, apapun posisi anda sebagai karyawan di bank ini, anda punya tanggung jawab untuk mengatur keuangan dengan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan ada hal baik yang anda temukan dari cerita saya ini. Ayo, menjadi bagian dari golongan menengah Indonesia yang kuat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s